Wednesday, 19 March 2014

Sahabat #2

Muhammad Ibnu Falah Adinugraha (bener toh?)
Cerdas, pandai olah kata, pandai manage hati, pekerja sejati, sikap petarungnya jadi karakter khas “mbah” yg satu ini.
Ini sahabat masa kecilku,ketika duduk dibangku SD aku sudah mengenalnya dengan baik dan sampai saat ini.Yap beliau sering dipanggil MBAH oleh kami, karena beliau orang yang paling tua.
Beliau juga sebagai teman diskusi yang enak. Gak bakal bosen-bosen nya membahas dakwah, jodoh ketika "duduk berdua" dengan beliau.
Ketika SMP aku sempet agak menjauh dari beliau (dramatis), karena beliau ikut OSIS, dan sangat aktif. yang ketika itu aku tidak gabung dengan OSIS. Tapi Allah mendekatkan kami lagi ketika kami di SMA. Meski tidak pernah satu kelas, hampir setiap hari ketemu dengan beliau. Karena kami berada di satu organisasi ROHIS, OSIS, HIMPARISBA. Nah aku mengenal HIMPARISBA juga dari beliau. Dan akhirnya beliaulah yang memegang setir HIMPARISBA pada zamannya. 
Sampai sekarang pun aku masih banyak komunikasi dengan beliau. Meski tak satu sekolah lagi, kita tetep komunikasi dnengan baik. Yap, beliau sekolah di Institut terbaik negeri, ITB.


Sampai saat ini, pembahasan utama ketika kita bertemu pun adalah seputar jodoh (gak bosen-bosen). Tapi aku belajar banyak dari beliau, mulai dari kegigihanya, solihnya, tempat aku sering bertanya masalah agama. Adi insyAllah kau akan menemukan pendamping yang lebih solihah dari mbak septina (ahai). Cita-citanya apa yap?, ah beliau ingin mengabdi untuk negrei dan agama. Menjadi seorang cendekiawan muslim yang hebat di Indonesia :)

Sahabat #1

Ketika mengingat saat-saat perjuanganku dulu (sampai sekarang juga sih), aku akan ingat ke tiga sahabat yang paling aku kagumi diantara sahabat-sahabat yang lain..
Entah apa yg dahulu bisa mempertemukan kita, tapi kisah kita akan menjadi kenangan apik tersendiri.
Yup tepatnya ketika masa SMA, saat di SMA satu Blora. Inilah mereka :



Saturday, 15 March 2014

Wanita Pujaan (1)

Sudah terhitung setahun semenjak kelulusannya, tak ku dengar kabar darinya. SMS yang aku kirimkan hampir tiap hari, tak pernah sekalipun terkirim ataupun melalui telepon yang selalu terdengar suara operator bahwa nomor yang anda hubungi diluar jangkauan . Lewat media sosial, tak pernah kudapati broadcast apapun dari akunnya.  Mungkin dia sudah lupa denganku dan sudah terlalu sibuk dengan aktivitas barunya, sudahlah sudah kumaafkan semuanya, termasuk 7 bulan yang lalu saat dia tidak datang di acara kelulusanku.

Aku masih ingat ketika dulu kami sering bersama, tertawa, bercanda, dan sekarang aku merasakan apa yang namanya rindu itu. Seorang gadis nan cantik jelita, baik, dan juga berproses untuk lebih solihah, Novita Dwi Arinda, yang sering aku sapa akrab dengan nama Novi.
Seorang wanita dari suatu desa kecil di sebelah barat bandung yang merantau jauh ke Yogyakarta, belajar di Fakultas Kedokteran, jurusan pendidikan dokter, Universitas Gadjah Mada. Meski kampus kami bertetangga, kami tak pernah sekalipun berjumpa dan berkenalan sebelumnya. Dan mungkin saat itu adalah awal aku bertemu dan berkenalan dengannya, dan awal lembar-lembaran kenangan itu tertulis

Keringat Pengabdian


Tetes keringat  menjadi saksi,
Saksi perjuangan abadi,
Mengabdi untuk ibu pertiwi

Berjejer satu, dua, tiga, hingga puluhan jejer untuk sesuap nasi
Dari yang duduk hingga berdiri, dari yang beralas tikar atau hanya sehelai goni
Tak peduli caci maki, hanya wujud bukti kepada wakil negeri,
Anak negeri, mampu berdikari
Dari tepi mereka mengabdi

Dingin hawa , tak jadi alasan untuk berdiam raga
Kapal nan tua, jadi teman setia, petang hingga pagi buta
Meski tak pernah sangka, berapa ekor yang terjala
Tak sekalipun takut leyapnya nyawa
Dari samudra mereka berkata, negeri kita kaya

Panas terik terus menyinari
Tetap tak goyahkan langkah kaki
Cangkul dan sapi, sejati mendampingi
Andai sehari cuti, berjuta rakyat lapar dan mati
Dari hamparan padi mereka berjanji, tak akan pernah sekalipun berhenti