Showing posts with label Kisah Ilyas. Show all posts
Showing posts with label Kisah Ilyas. Show all posts
Tuesday, 6 January 2015
Gadis Kacamata
Senja di kota budaya mengembalikan ingatan tentang gadis kacamata yang lama tak kutahu kabarnya.
Saturday, 25 January 2014
Ilyas Mengenalnya
Alhamdulillah,
Ilyas begitu terharu dan bahagia ketika mendengar bahwa sahabatnya telah menggenapkan
separuh agamanya. Dia yang Ilyas kenal
sebagai seorang muslimah yang rapuh, tetapi begitu taat dalam ikhtiar dan doa
doanya. Yaa, Ilyas sangat mengenalnya..
Sekitar 6 tahun
lalu, Allah berikan kesempatan mereka untuk mengenal satu sama lain, ya ketika
itu mereka duduk di bangku kelas 2 SMA. Ilyas baru mengetahui, jika dia juga
termasuk aktivis ROHIS sejak kelas satu, dan kemudian dia termasuk salah satu
akhwat penggerak ROHIS SMA Ilyas…
Dia mendapatkan amanah sebagai
kordinator kemuslimahan ketika itu, saat Ilyas dipercaya untuk memegang kendali
ROHIS. Haha, mana mungkin Ilyas tak mengenal pengurus harian Ilyas…lha wong
tiap minggu mereka selalu dipertemukan dalam syuro ROHIS. Ilyas masih ingat,
program kerja Muslimah rutin tiap pekannya, yaitu kajian Muslimah hari jumat
setelah pulang sekolah..hehe, mungkin cuma itu kali ya..
Meskipun demikian Ilyas termasuk
orang yang jarang berinteraksi dengan dia dibanding akhwat akhwat ROHIS
lainnya, karena memang mungkin dia agak pendiam, dan lebih suka untuk menjaga
pandangan..MasyaAllah.. Setelah dipertemukan dibangku kelas 2 Ilyas jadi lebih
tau bagaimana karakter sebenarnya.. santun, sopan.
setahun kemudian tenyata Allah
juga mempertemukan mereka lagi dibangku kelas 3..wah..Ilyas juga mulai ada
perasaan yang gak enak.. Kabar angin yang beredar bahwasanya ada sifat didiri Ilyas
yang mengganjal perasaan dia, entah apalah itu namanya..tapi karena Ilyas
orangnya cuek, Ilyas tanpa sedikitpun menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang
penting..afwan. Jujur saja, ketika itu ada sesosok mahluk yang sangat menarik
perhatian seorang Ilyas, maka Ilyas putuskan untuk tidak merespon dia..hihi
Ilyas masih ingat ketika itu,
setelah salat tarawih, dengan mengendarai motor MegaPro yang baru pertama kali
buat Ilyas itu sekencang-kencangnya, dan tanpa sadar di sebuah pertigaan ada
motor bebek yang akan menyeberang..brukk.. Ilyas telah menabrak 2 orang
gadis..kemudian Ilyas berdiri, mendirikan motor, Ilyas berkali-kali mengedipkan
mata, ternyata yang Ilyas tabrak adalah dia dan teman ceweknya, yang ketika itu
selesai menyelesaikan urusan di fotokopian..wah Ilyas hanya bisa terbengong,
saat dia merintih kesakitan, dan dibopong oleh teman Ilyas..pertanyaan tidak
apa2 mbak, hanya dibalas dengan senyuman dan kata gakpapa kok…afwan Ilyas
benar2 merasa bersalah saat itu..mungkin saja rasa/luka memarnya masih sampai
sekarang, please for give me mbak.. Pasca tabrakan tersebut dia sering merintih
kesakitan di bagian pingganggnya.. Afwan mbak bro..
Ilyas juga begitu nampak bersalah
ketika dia tidak dapat boncengan/tebengan saat foto perpisahan kelas. Meski
saat itu Ilyas sendirian, sangat tidak mungkin Ilyas memboncengkan dia. Seingat
Ilyas dulu kita bener2 dikejar waktu, sudah tak sempat untuk menunggu dia yang
sedang perjalanan dari rumah menuju kota..hanya niatan saja, Ilyas begitu ingin
balik dari lokasi pemotretan untuk menuju kos2an dia yng berjarak sekitar 30
menitan. Tapi Ilyas begitu heran tak satupun teman yang ingin bertindak
demikian meskipun dia berkata gakpapa…
Dan mungkin agenda bersama
terakhir mereka saat SMA adalah saat mereka alumni ROHIS mengadakan acara amal
disebuah panti asuhan NURUL HADI didekat rumah dia..ya mereka mengadakan semacam
kunjungan, penanaman karakter, bakti sosisal chairity di sana. Sekitar 2malam mereka
menginap dipanti tersebut bersama sahabat2 yang lain juga, dan kemudian di
malam terakhir saat perpisahan ada sepucuk surat dari seorang sahabat yang
menggmbarkan perasaannya (wiss)..kepada mereka ber 5 Falah, Anton, Ilyas, Rahma,
Fatma, Yuli, suratnya dari mbak Tintin. Nah ketika sampai di bagian pembacaan
surat untuk Ilyas, dialah yang membaca, entah sengaja atau tidak kenapa harus dia
yang membaca..dari sana perasaan yang mungkin dia rasakan kepada Ilyas, seakan
menular ke diri Ilyas, dia mengajarkan bagaimana kita harus tulus dalam
mencintai seseorang dan harus bersabar dan bersyukur atas apa yang Allah
karuniakan kepada kita hihihi…
Sekitar setahun pasca
kelulusan..Ilyas begitu terkejut ketika mendengar berita bahwasanya dia dilamar
oleh seorang pria..Ilyas kenal dengan pria tersebut, tapi data yang diberikan
oleh adik dia bahwasanya pernikahan akan dilakukan seteah kedua mempelai
lulus..pikiran suudzon mulai mengaliri pikiran Ilyas.. Ditambah ketika itu adik dia tidak sengaja
menemui Ilyas..lalu bercerita panjang lebar mengenai perubahan dari kakanya
setelah terjadinya lamaran tersebut..bahakan dia sampai sering bertengkar
dengan adiknya akibat hal2 sepele..Masyaallah, Ilyas juga sempat mentabayunkan
kepda temen2 akhwat yang lain untuk memastikan kondisi dan menasihati dia agar
tetap istiqomah wuish…
Karena menurut data dari adik dia,
semenjak lamaran dia malah sering bermaksiat, berkhawat dengan pria tersebut,
dan adiknya tidak begitu setuju dengan kakanya untuk memilih pria itusebagai
pendamping hidup, entah karena alasan apa..sampai adiknya juga mengatakan kata2
yang sebelumnya sudah Ilyas duga, dan berharap bgt kepada Ilyas untuk menjadi
pahkawan kesiangan (siapa gue?)
Akhir cerita, dia memutus lamaran
itu lalu kemudian sabar menunggu sang pujaan hati dating dengan membawa
keyakinan untuk meminangnya…dan ternyata kejadian, sorang lelaki asli ciaap
yang akhirnya menjadipelabuhan hati dia, tepat di tanggal 25 Desember mereka
menikah…dan lelaki itu adalah salah satu kawan seperjuangan Ilyas di Teknik UGM..hem
sungguh mengharukan ya,, semoga menjadi keluarga yang samaraba..meahirkan
generasi2 penerus erjuangan dakwah J
Untuk kedua sahabatku..slamat
menempuh kehidupan yang sebenarnya doakan mereka segera menyusul kalian..hehe
Yogyakarta, 3 Januri
2014
Wisma Andalusia,
Pogungrejo
Sunday, 25 March 2012
Senyumu Memantapkan Hatiku (Perjalanan hidup Muhammad Ilyas)
Senyumu Memantapkan Hatiku
(Perjalanan hidup Muhammad Ilyas)
“Huh.. Alhamdulillah, kerjaan kelar” kata Ilyas, salah satu pegawai BUMN yang sedang menyelesaikan tugasnya untuk merancang struktur pengeboran minyak proyek kantornya.
Jam menunjukan pukul 01.00 WIB, di tempat kantornya Ilyas mencoba merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerja.
“ MasyaAllah, pye nanti ketika sudah ada istri di rumah? Bakal harus cerdas membagi waktu antara keluarga dan kantor”, batin Ilyas, pemuda yang berusia 23 tahun lebih 3 bulan, yang baru satu tahun lalu menyelesaikan studi s1 nya di salah satu kampus negeri di Yogyakarta, dan sekarang dia di tempatkan di Bojonegoro, Jawa timur.
“ Ya Allah, jangan sampai kerjaanku ini mengurangi ikhtiarku untuk mencari rezekimu dan mengurangi waktu malam ku untuk bertemu dengan MU”, doa Ilyas sambil menngendong tas nya, keluar kantor menuju mobilnya untuk segera bergegas pulang ke rumah.
Sekitar 4 bulan yang lalu, Ilyas mengalami hal terpahit yang pernah dirasakan. Ikhtiarnya untuk melamar salah satu wanita yang juga teman kecilnya di tolak oleh wanita tersebut. Memang perasaan itu muncul ketika dulu Ilyas duduk di bangku SMA, dan mempunyai rencana untuk melamar gadis yang rumahnya tidak jauh dari rumah Ilyas. Tapi apa daya, gadis tersebut sudah dilamar oleh lelaki yang juga teman dekat Ilyas. Dan Ikhtiar Ilyas masih terus berlanjut untuk menjemput rezeki yang telah di tetapkan Allah tersebut.
“Assalamu’alaikum, waduh sudah sepi. Dek Putra udah tidur, wah mumpung masih jam setengah dua, kesempatan untuk tidur dua jam. Subuh sekarang jam setengah lima. Bisa deh buat nglanjutin istikhoroh yang kemarin, Semangat!!” dengan suara rintih, Ilyas langsung menuju ke kamarnya nya untuk tidur sejenak.
Tepat jam 04.00, “ mas, tangi mas. Katanya mau istikhoroh, nanti rezekinya aku dulu lho yang dapat”, putra mencoba membangunkan kakaknya yang masih tidur.
Putra adalah adik dari Ilyas, yang berselisih 2 tahun umurnya. Karena masih ada libur semester, Putra menyempatkan untuk main di kontrakan kakaknya sejak satu minggu yang lalu. Putra sekarang juga sudah duduk di bangku perkuliahan tahun ke-3. Sama dengan kakaknya, Putra juga berkuliah di tempat yang dulu pernah di jadikan tempat menimba ilmu kakaknya.
“mas,mas..adzan mas..” teriak Putra.
“astaghfirullah, dek kamu gak ngebangunin mas buat tahajud sih !!” Ilyas terbangun sambil berkata.
“ye, tadi sudah tak bangunin. Mas aja yang ngoroknya kenceng banget, cepetan bangun, biar dapet Qabliah Subuh”,bantah Putra.
Mereka berdua pun akhirnya berangkat ke masjid, yang tidak terlalu jauh dari kontrakan Ilyas.
“Dek, Mas kangen sama masakan ibuk e.., pengin pulang.” Sambil berjalan pulang ke kontrakan,
Putra menjawab,” iya tu, kmaren ibuk juga minta aku buat bilang sama Mas, mbok ya mampir ke rumah sebentar, lha wong cuma beberapa jam perjalanan ke rumah, ya disempatkan lah.”
“ hehe.. pinginya sih begitu, tapi kerjakan masih numpuk. Belum nanti ngisi ta’lim di SMA sini. Kemarin dapat permintaan dari Kepala sekolah, buat mbimbing anak-anak ROHIS tiap hari sabtu sore. Ya, Insya Allah Mas sempatkan lah.” Jawab Ilyas.
“ Gitu dong. Tapi antum keren yo Mas, masih sempet juga membagikan ilmu ke adek-adek SMA. Iri aku.. disamping kerja wis mapan, juga tetep istiqomah di jalan yang indah ini” putra mencoba memuji kakaknya.
Ilyas menegaskan,“ Itu hukumnya wajib..hehe. Ya, Mas juga masih belajar, hitung-hitung buat nambah ilmu juga di SMA sambil. ..”
lalu Putra menyahut “…sambil melirik yang cocok ya?”,
“hus..ngawur. sambil berbagi ilmu yang sudah mas dapat pas kuliah lah, pikiranmu itu dek, murni lillahi ta’ala lah, urusan yang itu beda lagi” balas Ilyas lagi.
“ haha..Eh mas, ngomong-ngomong anak Jakarta itu gimana, jadi gak?” tanya putra sambil membuka pintu rumah.
“Waduh, gak tau dek. Mas kmaren udah hubungi murobi mas, tapi belum ada jawaban dari beliau lagi. Ee..yo sing sabar. Ikhtiar-ikhtiar..” Ilyas menjawab, sambil mamanasi mobil nya.
“ ahaha.. beliau orangnya baik kan ? sekarang kerja dimana ?”tanya putra lagi.
“ Mbak Intan maksudmu?Beliau luar biasa,sSekarang beliau kerja di Jogja” jawab Ilyas.
“ Oh, namanya Intan. Haha..bilang ke Ibu ah.”putra menyahut.
“Bilangen sana. Ee..alah. Oh ya dek, kabar ROHIS di SMA gmana? Katanya mau ada kegiatan Tabligh Akbar, ngundang ustad Jefri?” Ilyas balik bertanya
“ Alhamdulillah luar biasa Allahu akbar. Khoir, insyaAllah bulan Ramadhan besok. Antum ngisi training buat pengurus ROHIS yak..?” Putra menawari Kakaknya.
“ Walah..hehe boleh-boleh. Semoga tetep lancar deh, kalau butuh bantuan sponsor, mas siap bantu. Eh kamu sudah denger kabarnya mas Fatah? Beliau mau akad nikah bsok Sabtu minggu depan lho” balas Ilyas.
“ Eh seriusan, kok gak di kabari sih.. sama orang mana??”Putra menyahut
“ Dapat anak Karanganyar juga, hhe.memang baru sedikit yang di undang, mas aja Cuma di sms sama beliau. Ya keduluan juga akhirnya sama beliau..” jawab Ilyas.
Kring,,kring...
“ Eh ini mas Fatah nelpon,. Aslamu’alaikum. Ente panjang umur tah” Ilyas mengangkat telponnya.
“wa’alaikumslam. Mesti ni ngrasani ane ya.kebiasaan orang-orang yang bujang, ngrasani orang yang sudah dapet.”fatah menjawab.
“ Wah sialan nih, ngrasani baik kok., nggak di doain malah di ejek. Ente sih, anak orang baru semester 4 udah di gaet aja,” sambil ketawa Ilyas mencoba membalas Fatah.
“ Ini rekor akh. Toh, orangnya juga mau, dan nggak sembarangan ini, perlu pemikiran panjang. Sampai-sampai ane harus bolak-balik Bekasi-Karanganyar untuk meyakinkan orang tuanya. Anaknya sih oke,oke aja. Alhamdulillah. Heh ente pye? Katanya mau ke Jakarta, sini biar ane tmenin ketemu sama orang tuanya. Masalah lobi,melobi serahkan pada yang sudah berpengalaman.” Sahut Fatah dengan semangat.
“ Ente emang luar biasa, akhirnya kegalauan ente udah ada obatnya.Soal orang Jakarta, kemaren ane udah hubungi murobbi ane, tapi belum ada balesan dari beliau. Mungkin masih cari info murobbinya si Intan.” Jawab Ilyas
“ Tapi Ente udah istikhoroh akh? Udah ada kemantapan hati? Kalau butuh bantuan bilang ke ane aja, ane siap terjun langsung.” Fatah menenangkan Ilyas.
“ heem akh. Tapi Ane ,masih kepikiran Aisyah tah. Bener-bener gak nyangka aja, MasyaAllah harus banyak evaluasi diri. Sakit rasanya. Ane pengen sekali segera menggenapkan agama ane, ane mearasa godaan sudah terlalu banyak, pandangan juga mudah sekali terancam. Ane pengen segera membangun sebuah istana kecil di dunia ini.” Ilyas share kepada Fatah.
“Allah punya rencana lain yang lebih indah akh. Yang penting antusiaslah terus dalam berusaha, InsyaAllah hasilnya juga optimal. Eh udah jam enam. Gitu dulu aja ya akh, kalau mau konsultasi, ane 24 jam untuk antum. Jangan lupa Sabtu ya, Assalamu’alaikum.” Bergegas Fatah menutup telpon.
“ Wa’alaikumsalam. Dasar ente, gak pernah berubah.. Eee.ngantor-ngantor,harus tetap semangat!!”teriak Ilyas.
(bersambung)
(Perjalanan hidup Muhammad Ilyas)
“Huh.. Alhamdulillah, kerjaan kelar” kata Ilyas, salah satu pegawai BUMN yang sedang menyelesaikan tugasnya untuk merancang struktur pengeboran minyak proyek kantornya.
Jam menunjukan pukul 01.00 WIB, di tempat kantornya Ilyas mencoba merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerja.
“ MasyaAllah, pye nanti ketika sudah ada istri di rumah? Bakal harus cerdas membagi waktu antara keluarga dan kantor”, batin Ilyas, pemuda yang berusia 23 tahun lebih 3 bulan, yang baru satu tahun lalu menyelesaikan studi s1 nya di salah satu kampus negeri di Yogyakarta, dan sekarang dia di tempatkan di Bojonegoro, Jawa timur.
“ Ya Allah, jangan sampai kerjaanku ini mengurangi ikhtiarku untuk mencari rezekimu dan mengurangi waktu malam ku untuk bertemu dengan MU”, doa Ilyas sambil menngendong tas nya, keluar kantor menuju mobilnya untuk segera bergegas pulang ke rumah.
Sekitar 4 bulan yang lalu, Ilyas mengalami hal terpahit yang pernah dirasakan. Ikhtiarnya untuk melamar salah satu wanita yang juga teman kecilnya di tolak oleh wanita tersebut. Memang perasaan itu muncul ketika dulu Ilyas duduk di bangku SMA, dan mempunyai rencana untuk melamar gadis yang rumahnya tidak jauh dari rumah Ilyas. Tapi apa daya, gadis tersebut sudah dilamar oleh lelaki yang juga teman dekat Ilyas. Dan Ikhtiar Ilyas masih terus berlanjut untuk menjemput rezeki yang telah di tetapkan Allah tersebut.
“Assalamu’alaikum, waduh sudah sepi. Dek Putra udah tidur, wah mumpung masih jam setengah dua, kesempatan untuk tidur dua jam. Subuh sekarang jam setengah lima. Bisa deh buat nglanjutin istikhoroh yang kemarin, Semangat!!” dengan suara rintih, Ilyas langsung menuju ke kamarnya nya untuk tidur sejenak.
Tepat jam 04.00, “ mas, tangi mas. Katanya mau istikhoroh, nanti rezekinya aku dulu lho yang dapat”, putra mencoba membangunkan kakaknya yang masih tidur.
Putra adalah adik dari Ilyas, yang berselisih 2 tahun umurnya. Karena masih ada libur semester, Putra menyempatkan untuk main di kontrakan kakaknya sejak satu minggu yang lalu. Putra sekarang juga sudah duduk di bangku perkuliahan tahun ke-3. Sama dengan kakaknya, Putra juga berkuliah di tempat yang dulu pernah di jadikan tempat menimba ilmu kakaknya.
“mas,mas..adzan mas..” teriak Putra.
“astaghfirullah, dek kamu gak ngebangunin mas buat tahajud sih !!” Ilyas terbangun sambil berkata.
“ye, tadi sudah tak bangunin. Mas aja yang ngoroknya kenceng banget, cepetan bangun, biar dapet Qabliah Subuh”,bantah Putra.
Mereka berdua pun akhirnya berangkat ke masjid, yang tidak terlalu jauh dari kontrakan Ilyas.
“Dek, Mas kangen sama masakan ibuk e.., pengin pulang.” Sambil berjalan pulang ke kontrakan,
Putra menjawab,” iya tu, kmaren ibuk juga minta aku buat bilang sama Mas, mbok ya mampir ke rumah sebentar, lha wong cuma beberapa jam perjalanan ke rumah, ya disempatkan lah.”
“ hehe.. pinginya sih begitu, tapi kerjakan masih numpuk. Belum nanti ngisi ta’lim di SMA sini. Kemarin dapat permintaan dari Kepala sekolah, buat mbimbing anak-anak ROHIS tiap hari sabtu sore. Ya, Insya Allah Mas sempatkan lah.” Jawab Ilyas.
“ Gitu dong. Tapi antum keren yo Mas, masih sempet juga membagikan ilmu ke adek-adek SMA. Iri aku.. disamping kerja wis mapan, juga tetep istiqomah di jalan yang indah ini” putra mencoba memuji kakaknya.
Ilyas menegaskan,“ Itu hukumnya wajib..hehe. Ya, Mas juga masih belajar, hitung-hitung buat nambah ilmu juga di SMA sambil. ..”
lalu Putra menyahut “…sambil melirik yang cocok ya?”,
“hus..ngawur. sambil berbagi ilmu yang sudah mas dapat pas kuliah lah, pikiranmu itu dek, murni lillahi ta’ala lah, urusan yang itu beda lagi” balas Ilyas lagi.
“ haha..Eh mas, ngomong-ngomong anak Jakarta itu gimana, jadi gak?” tanya putra sambil membuka pintu rumah.
“Waduh, gak tau dek. Mas kmaren udah hubungi murobi mas, tapi belum ada jawaban dari beliau lagi. Ee..yo sing sabar. Ikhtiar-ikhtiar..” Ilyas menjawab, sambil mamanasi mobil nya.
“ ahaha.. beliau orangnya baik kan ? sekarang kerja dimana ?”tanya putra lagi.
“ Mbak Intan maksudmu?Beliau luar biasa,sSekarang beliau kerja di Jogja” jawab Ilyas.
“ Oh, namanya Intan. Haha..bilang ke Ibu ah.”putra menyahut.
“Bilangen sana. Ee..alah. Oh ya dek, kabar ROHIS di SMA gmana? Katanya mau ada kegiatan Tabligh Akbar, ngundang ustad Jefri?” Ilyas balik bertanya
“ Alhamdulillah luar biasa Allahu akbar. Khoir, insyaAllah bulan Ramadhan besok. Antum ngisi training buat pengurus ROHIS yak..?” Putra menawari Kakaknya.
“ Walah..hehe boleh-boleh. Semoga tetep lancar deh, kalau butuh bantuan sponsor, mas siap bantu. Eh kamu sudah denger kabarnya mas Fatah? Beliau mau akad nikah bsok Sabtu minggu depan lho” balas Ilyas.
“ Eh seriusan, kok gak di kabari sih.. sama orang mana??”Putra menyahut
“ Dapat anak Karanganyar juga, hhe.memang baru sedikit yang di undang, mas aja Cuma di sms sama beliau. Ya keduluan juga akhirnya sama beliau..” jawab Ilyas.
Kring,,kring...
“ Eh ini mas Fatah nelpon,. Aslamu’alaikum. Ente panjang umur tah” Ilyas mengangkat telponnya.
“wa’alaikumslam. Mesti ni ngrasani ane ya.kebiasaan orang-orang yang bujang, ngrasani orang yang sudah dapet.”fatah menjawab.
“ Wah sialan nih, ngrasani baik kok., nggak di doain malah di ejek. Ente sih, anak orang baru semester 4 udah di gaet aja,” sambil ketawa Ilyas mencoba membalas Fatah.
“ Ini rekor akh. Toh, orangnya juga mau, dan nggak sembarangan ini, perlu pemikiran panjang. Sampai-sampai ane harus bolak-balik Bekasi-Karanganyar untuk meyakinkan orang tuanya. Anaknya sih oke,oke aja. Alhamdulillah. Heh ente pye? Katanya mau ke Jakarta, sini biar ane tmenin ketemu sama orang tuanya. Masalah lobi,melobi serahkan pada yang sudah berpengalaman.” Sahut Fatah dengan semangat.
“ Ente emang luar biasa, akhirnya kegalauan ente udah ada obatnya.Soal orang Jakarta, kemaren ane udah hubungi murobbi ane, tapi belum ada balesan dari beliau. Mungkin masih cari info murobbinya si Intan.” Jawab Ilyas
“ Tapi Ente udah istikhoroh akh? Udah ada kemantapan hati? Kalau butuh bantuan bilang ke ane aja, ane siap terjun langsung.” Fatah menenangkan Ilyas.
“ heem akh. Tapi Ane ,masih kepikiran Aisyah tah. Bener-bener gak nyangka aja, MasyaAllah harus banyak evaluasi diri. Sakit rasanya. Ane pengen sekali segera menggenapkan agama ane, ane mearasa godaan sudah terlalu banyak, pandangan juga mudah sekali terancam. Ane pengen segera membangun sebuah istana kecil di dunia ini.” Ilyas share kepada Fatah.
“Allah punya rencana lain yang lebih indah akh. Yang penting antusiaslah terus dalam berusaha, InsyaAllah hasilnya juga optimal. Eh udah jam enam. Gitu dulu aja ya akh, kalau mau konsultasi, ane 24 jam untuk antum. Jangan lupa Sabtu ya, Assalamu’alaikum.” Bergegas Fatah menutup telpon.
“ Wa’alaikumsalam. Dasar ente, gak pernah berubah.. Eee.ngantor-ngantor,harus tetap semangat!!”teriak Ilyas.
(bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
